School of Mind Reprogramming - Monday, April 21, 2014

Pasien Pemakai Obat Penenang Untuk Terapi Jangka Panjang

September 27, 2011 by  
Filed under hypnotherapy & Ego state therapy

Pasien Pemakai Obat Penenang Untuk Terapi Jangka Panjang Cenderung Sukar Untuk Melepaskan Penggunaan Obat Penenangnya

Selama hampir 12 tahun saya mengabdi sebagai seorang farmasis di apotek milik saya sendiri. Setiap hari saya melihat dan membaca resep pasien yang belanja di apotik saya sebelum obat ini dibuat oleh pegawai apotek. Banyak hal menarik mengenai kesehatan yang menjadi perhatian saya. Untuk tulisan saya kali ini, saya mau menekankan tentang penggunaan golongan obat penenang. Sebelum membahas lebih lanjut, saya jelaskan terlebih dahulu apa itu golongan obat penenang. Golongan obat penenang adalah golongan obat Hipnotik-sedatif.

Hipnotik-sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang dan kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, yang tergantung dari dosis obat yang diberikan. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.

Untuk pasien dengan gangguan atau sakit ringan seperti sakit gigi, nyeri sendi karena terkilir ini maka pemakaian obat penenang ini sifatnya hanya sementara saja yakni saat gangguan fisik ini masih ada dan apabila gangguan fisik ini sudah hilang maka dengan sendirinya penggunaan obat ini juga dihentikan. Pemakaiannya pun cenderung dibatasi untuk pemakaian jangka pendek ditambah lagi pemakaiannya hanya dalam kondisi diperlukan saja.

Permasalahan muncul jika pemakaiannya untuk jangka yang lebih panjang contoh pada pasien dengan gangguan pada fisik hebat seperti radang sendi (Rheumathoid Arthritis), pasien stres, pasien frustrasi, pasien depresi dan penyakit lain yang dikatagorikan gangguan jiwa. Pemakaian panjang mulai bulanan hingga tahunan ini berakibat tidak hanya ketergantungan secara fisik saja namun juga ketergantungan secara psikis. Kondisi ini membuat pasien sukar untuk lepas obat. Dan jika dipaksakan untuk putus obat maka dapat berakibat munculnya gejala putus obat seperti kondisi emosi-emosi yang tidak terkontrol (senang berlebihan , takut berlebihan, cemas berlebihan, dll). Berdasarkan survei yang belum tervalidasi, persentase pasien yang tidak dapat putus obat mencapai diatas 95 %.

Semakin berat permasalahan sakit fisik dan sakit mental yang diderita pasien menyebabkan tingkat ketergantungan terhadap obat penenang inipun makin tinggi. Semakin tingginya tingkat ketergantungan ini menyebabkan semakin sukar pula untuk melepaskan penggunaan obat penenang ini. Ditambah lagi jika ini merupakan kombinasi antara sakit fisik dan sakit mental (two in one deh).

Bagaimana perjalanan seorang pasien hingga dia mendapatkan resep golongan obat penenang ini merupakan satu hal yang menarik bagi saya untuk diteliti dan diketahui lebih dalam lagi. Dan penelitian ini tentunya lebih mantap lagi setelah saya mengetahui ilmu pikiran dan sumber daya manusia. Ilmu pikiran dan sumber daya manusia yang menjelaskan bagaimana satu peristiwa, kejadian, kata-kata (linguistik) dapat mempengaruhi seseorang, dan menjadikan satu orang yang berbeda dari sebelumnya. Berbeda dari sebelumnya inipun dapat berkonotasi baik atau tidak baik.

Berikut ini saya paparkan beberapa contoh pasien pengguna obat penenang yang berhasil saya wawancara.

Pasien pertama sebut saja Pak Hendra, seorang pasien yang menggunakan obat penenang jenis benzodiazepin yaitu Xanax tablet 1 mg. Hendra menggunakan Xanax 1 mg selama lebih dari 12 tahun. Pak Hendra adalah seorang koreografi tari tradisional tiongkok, dapat dikatakan seorang seniman tradisional yang sangat berbakat dan kreatif. Sering Hendra mendapatkan order satu karya tarian tradisonal beserta kostum yang dikenakan dalam tarian itu. Dan sering pula orderan yang datang mempunyai termin waktu yang pendek dan ini membuat Pak Hendra perlu memeras otaknya untuk menghasilkan satu kreasi tarian tradisional baru dengan cepat, bagus dan sesuai dengan permintaan. Satu pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan ditambah dengan kata “segera” atau dalam bahasa latin dalam dunia kesehatan disebut “cito” ini membuat Hendra harus dapat mempertahankan kinerja kerjanya hingga pekerjaannya tuntas….tas…tas.

Disaat ada order tarian, Pak Hendra dengan konsentrasi tinggi hingga berhari-hari, tidur tidak tentu waktunya, makanpun tidak tentu waktunya. Begitulah perjalanan kehidupan Pak Hendra beserta pekerjaannya. Permasalahan terjadi saat Pak Hendra tidak ada order tarian. Kerjanya hanya makan dan tidur saja. Makan tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah tidur. Pak Hendra mengatakan saat dia berada di tempat tidur, mata tidak mau menutup, dialihkan dengan menghitung kambing hingga berjuta-juta ekor juga tetap tidak dapat membuat mata lelah dan tidur. Mungkin mulut saja yang jadi dower karena menghitung kambing sebanyak itu.

Akhirnya Pak Hendra konsultasi dengan dokter dan didapatlah obat penenang Xanax dengan ukuran 1 mg. Sehari minum satu biji malam hari dan diminum hanya bila diperlukan saja yaitu saat Pak Hendra tidak dapat tidur. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun hingga Pak Hendra bertemu dengan saya. Xanax tablet 1 mg yang semula diminum satu biji sehari malam hari bertambah menjadi satu kali 5 biji dengan aturan minum setiap kondisi cemas, tegang atau suka-sukanya dia sendiri atur jadwal minum obat ini. Pernah saya bertanya pada Pak Hendra, mengapa dia minum Xanax dengan takaran dosis yang begitu banyak, Pak Hendra mengatakan bahwa dia perlu tidur dan menurut pemahaman dia kalau tidur itu kelopak mata dapat menutup dengan sendirinya. Dengan bantuan obat Xanax dalam beberapa menit kelopak matanya dapat menutup dengan sendirinya. Luar biasa kan pemahaman Pak Hendra mengenai kondisi tidur ?

Kasus yang dialami Pak Hendra menunjukkan satu efek toleransi, dimana obat yang dikonsumsi mengalami peningkatan dosis dengan efek yang sama. Artinya dulu hanya dengan satu biji sudah dapat memberikan efek tidur, sekarang perlu 5 biji Xanax tablet 1 mg baru dapat memberikan efek tidur.

Masih ada cerita lainnya, suatu hari Pak Hendra belanja obat Xanax 1 mg, saat itu stok obat kurang dan saya katakan bahwa malam nanti baru diantar dari suppliernya. Lalu Pak Hendra menanyakan jam berapa obat dapat diantar ke rumah dia pada malam hari itu. Saya jawab sekitar jam 7 malam. Ternyata Pak Hendra melarang saya untuk mengantar di malam hari jam 7 itu karena kata Pak Hendra di dekat daerah rumahnya itu kalau malam hari ada Abang tukang bakso yang bermata 3 berjualan di sana. Pak Hendra takut sekali dengan abang tukang bakso bermata tiga itu. Oleh karena itu setiap sore hari sekitar jam 6, Pak Hendra sudah mengunci pintu rumah, menutup gorden rumah untuk menghindari Abang tukang jual bakso itu (padahal anak-anak kan suka dengan Abang tukang bakso sampai ada lagunya untuk meminta Abang tukang bakso ke sini karena mau beli bakso…hehehe). Semula dengan culun nya saya mencari kebenaran cerita Pak Hendra ini pada teman saya yang juga tinggal dekat dengan rumah Pak Hendra. Dan selain pertanyaan saya yang membuat teman saya bingung, jawaban yang saya dapatkan juga memberi pencerahan atas keculunan saya. Jawaban adalah mana ada tuh. Cuma itu saja jawaban yang saya dapatkan dari teman saya. Tapi mungkin saja kalau teman saya menjawab begitu tapi sebenarnya dianya juga takut karena cerita saya. Benar kan ?

Apa yang diceritakan oleh Pak Hendra merupakan salah satu efek samping dari penggunaan obat penenang dengan dosis tinggi dalam jangka waktu lama yaitu efek halusinasi. Halusinasi adalah satu fenomena visual, auditori, kinestetik yang tidak nyata dan dianggap nyata oleh seseorang. Halusinasi ini sendiri dapat berupa halusinasi visual saja, auditori saja, kinestetik saja atau berupa kombinasi dari dua atau tiga preferensi itu.

Sampai hari ini Pak Hendra dengan usia yang hampir 60 tahun tetap mengkonsumsi obat penenang Xanax tablet 1 mg dalam jumlah yang sudah tidak diketahui pasti. Selain Pak Hendra, istrinya juga kadang menggunakan Xanax milik Pak Hendra karena sang istri juga stres melihat Pak Hendra begitu. Dan obat Xanax sudah seperti kacang goreng bagi Pak Hendra. Mau putus obat, itu adalah hal yang tersulit dalam hidup Pak Hendra dibandingkan dengan menyelesaikan satu order tarian kreasi baru. Pernah satu kali obat habis, Pak Hendra ngamuk, meluapkan amarahnya hingga Xanax ada didepan matanya. Dan anaknya mengatakan kalau tidak ada obat Xanax ibarat rumah runtuh dengar suara amarahnya.

Kondisi gelisah, panik, depresi, membuat pasien tidak dapat mengontrol diri juga merupakan efek samping lain dari penggunaan jangka panjang obat penenang jenis Xanax ini. Efek lain “zombie face”, sulit konsentrasi.

Pasien kedua sebut saja Pak Sartono, sekitar 8 tahun yang lalu mengalami kecelakaan tabrak lari. Hampir sekujur tubuh luka dan terjadi patah tulang dibagian paha. Setelah menjalani rawat inap intensif kemudian diteruskan rawat jalan, akhirnya luka, memar, patah tulang dinyatakan sembuh. Pak Sartono pun sudah dinyatakan dapat beraktifitas kembali, yakni bekerja seperti sedia kala. Oops, Pak Sartono mau naik motor ke tempat kerja mikirnya seratus kali, ternyata trauma kecelakaan tabrak lari masih berbekas di benaknya. Konsultasilah Pak Sartono ke dokter , dan Pak Sartono mendapatkan resep obat Alganax tablet 0,5 mg. Pak Sartono bercerita pada saya bahwa saat pertama kali dia minum obat Alganax ini, dia merasa tenang dapat beraktifas kembali. Dan tidak terasa Pak Sartono sudah mengkonsumsi setiap hari hingga 8 tahun lamanya. Sering keluhan yang muncul dari mulut Pak Sartono untuk tidak tergantung pada obat Alganax ini (dengan ekpresi sedih hingga terkesan mau menangis), tapi apa daya jika putus obat Pak Sartono gelisah, tubuhnya ibarat beku dan tidak dapat diperintah untuk melangkah sehingga membuat Pak Sartono tidak dapat bekerja atau beraktivitas. Pernah pak Sartono menceritakan kondisinya kalau tidak minum obat Alganax yaitu badannya jadi gemetar, otak memerintah tapi tubuh tidak mau gerak (bingung kan siapa sebenarnya pemilik tubuh Pak Sartono ?).

Akhirnya harapan untuk tidak tergantung pada obat Alganax hanya tergantung di awang-awang saja tanpa dapat diwujudkan. Nasib….nasib…nasib lagi yang disalahkan.
Pasien ketiga sebut saja Pak Halim. Pak Halim adalah seorang pekerja keras, dapat dikatakan mulai sekolah dasar dia sudah giat bekerja. Lahir di keluarga miskin membuat dia sebagai anak tertua harus membanting tulang untuk membantu menopang hidup keluarga. Bekerja sejak usia muda tentunya banyak pengalaman, pembelajaran yang dibumbui dengan kepahitan, kegetiran, kekecewaan, kesedihan, keputus asaan, stres, frustasi, depresi, dll. Mungkin sebagian orang mengatakan ini adalah nasib, takdir, atau suratan yang mau tidak mau, senang atau tidak senang, bahagia atau tidak bahagia harus dijalani. Ibarat timeline atau jalur kehidupannya berkelok-kelok, zigzag dan penuh duri.

Sempat pada satu kesempatan saya mendengar curhat dari Pak Halim mengenai masa lalunya. Regresi pun terjadi ke masa-masa sulit yang dialaminya hingga dia dapat berdiri di kaki sendiri dan dengan derajad atau status dari kalangan bawah sekali hingga mencapai kalangan menengah ke atas. Cacian, hinaan, makian merupakan sarapan yang selalu didapat oleh Pak Halim dari pimpinan yang notabene adalah keluarga dekat atau famili dari Pak Halim. Yah, begitulah, hubungan dekat atau hubungan darah hanya berlaku pada saat silahturahmi acara keluarga saja dan di luar itu hukum alam yang berlaku. Pak Halim masih mengingat beberapa makian dan cacian berbagai versi termasuk versi kebun binatang, sampai kata-kata yang mangatakan bahwa tanpa pekerjaan seperti yang ia dapatkan saat itu keluarganya tidak akan dapat makan, oleh sebab itu dia harus selalu ingat budi dan balas jasa pada majikannya yang notabene famili Pak Halim ini. Kata-kata ini diulang beratus-ratus kali sampai Pak Halim hafal benar kata perkata, intonasi, jeda, tanda titik, tanda koma (mungkin huruf besar dan huruf kecil juga kali ya….hehehe). Semua itu dengan terpaksa diterima, ditelan, diamini oleh Pak Halim demi asap dapur keluarganya terus mengepul. Setiap hari dia tetap rajin, gigih, semangat, pantang menyerah, sabar, pantang emosi melakukan tugas kesehariannya. Pengorbanan yang dilakukan Pak Halim tidak sia-sia, ada buahnya yaitu pencapaian yang dia dapatkan seperti hari ini, jadi bos satu toko bahan bangunan dan dengan aset beberapa ruko dan tanah. Ini adalah satu kebanggaan dari Pak Halim, malah kemudian toko Pak Halim yang mendistribusikan beberapa bahan bangunan ke perusahaan familinya itu (ternyata kondisi jadi berbalik deh).

Menginjak usia 40 tahun kondisi kesehatan Pak Halim mengalami penurunan, sakit maag, lekas capek. Di tengah kondisi yang makin menurun ini ternyata memori kebencian, kemarahan, kekecewaan, dendam yang sudah lama terkubur muncul kembali campur baur dalam pikiran Pak Halim. Dan ini berujung pada kecemasan dan ketakutan yang tidak dapat dikontrol oleh Pak Halim.

Pak Halim memutuskan untuk ke psikiater dan dapat obat Ativan tablet 1 mg. Obat yang digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan, kekhawatiran dan memudahkan Pak Halim untuk tidur. Hari demi hari Pak Halim menggunakan obat itu, Pak Halim merasa nyaman, tenang, dapat tidur nyenyak dan dapat melakukan aktivitas dengan porsi pemanasan. Setiap hari mulai jam 8 malam kegelisahan, kekhawatiran yang tidak menentu itu muncul dan dengan sigap Pak Halim meminum obat Ativan ini, dalam 20 menit semua reda, aman terkendali. Begitu setiap harinya di malam hari hingga berbulan dan bertahunan. Tidak terasa sudah menginjak tahun ketiga. Perasaan takut ketergantungan obat penenang mulai dirasakan oleh Pak Halim akhirnya Pak Halim memutuskan untuk mencoba berhenti obat tersebut. Berhenti minum obat hanya berlangsung beberapa jam saja dan tidak pernah mencapai satu hari karena jika tidak minum obat Pak Halim seperti orang yang “hang”, cemas, khawatir, dan muncul perasaan tidak nyaman lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh Pak Halim.

Pak Halim pun mencoba berbagai cara termasuk ikut pelatihan tenaga dalam Satria Nusantara. Sempat berlatih beberapa bulan yang didapat adalah bingung karena tenaga dalam yang dipelajari ndak kunjung keluar juga dari dalam dirinya walaupun berbagai ritual sudah dia lakukan. Malahan yang lebih membuat Pak Halim frustasi, guru yang mengajar ilmu tenaga dalam ini mengalami kecelakaan dan masuk ICU. Bubar deh. Pak Halim pun memaklumi kondisi sang guru yang sudah tidak dapat mengajar dia lagi. Dan Pak Halim juga memaklumi gurunya yang mempunyai tenaga dalam mengalami kecelakaan karena saat kecelakaan kan datangnya tiba-tiba sehingga sang guru tidak sempat menggunakan tenaga dalam untuk menangkal kendaraan yang menabrak dia (mungkin sebagai alternatif dan pertimbangan dapat belajar dengan Satria Baja Hitam atau Kamen Rider kali ya ?).

Pak Halim termasuk salah satu pasien pengguna obat penenang jangka panjang yang beruntung. Dengan usaha yang keras dan pantang menyerah dia berusaha untuk melepas ketergantungannya pada obat penenang ini. Usaha yang dilakukan Pak Halim adalah mengurangi dosis secara perlahan-lahan. Dan perjuangannya selama kurang lebih 3 tahun membuahkan hasil yakni Pak Halim resmi berhenti obat penenang. Sekarang Pak Halim dapat melakukan aktivitas seperti sedia kala dengan porsi 33 % sisanya istri dan anak-anaknya. Satu perjuangan yang sangat luar biasa.

Dari contoh di atas. Obat yang digunakan adalah golongan benzodiazepine. Penggolongan obat ini berdasarkan sifat farmakokinetik. Obat golongan benzodiazepine ini termasuk dalam katagori obat psikotropika. Obat Psikotropika adalah merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Ketiga pasien yang saya contoh di atas hanya gambaran kecil dari ratusan pasien pengguna obat penenang yang setiap hari saya temui di apotek saya. Dari data yang saya dapatkan di apotek saya, tahun demi tahun terjadi peningkatan yang signifikan pada peresepan golongan obat penenang ini. Tentunya ini bukan merupakan khabar yang baik karena terjadinya penurunan kualitas dari sumber daya manusia itu sendiri. Sebagai gambaran di apotek saya dalam satu hari saja sekitar 25% – 30 % resep yang diterima adalah golongan obat penenang baik dalam bentuk sediaan tunggal maupun dalam bentuk kombinasi dengan obat lain.

Data lain yang saya dapatkan adalah menurut hasil Puslitbang Farmasi BPPK Depkes RI tahun 1980 di Jakarta ± 10 % dari resep apotek swasta. Data rumah sakit yang didapat tahun 1983 untuk Rumah sakit tipe C yaitu RSU Tasik, RSU Serang, RSU Koja dengan sampel resep yang diambil dalam kurun waktu 12 bulan. Pengumpulan sampel pada waktu itu didapat 5225 lembar resep rawat jalan. Setelah diklasifikasi, diperoleh 1582 lembar resep psikotropika (30,3 %) yang mengandung 1127 item obat golongan psikotropika sediaan tunggal. Sediaan tunggal golongan benzodiazepin diperoleh sebanyak 475 item atau 42,1 % dari jumlah item psikotropika. Bila dirinci lebih lanjut ternyata diazepam merupakan obat yang paling banyak dipreskripsi (sekitar 60 %) dan klordiazepoksid menduduki tempat kedua (sebanyak 18,7 %). Prosentase jenis keahlian dokter penulis resep benzodiazepin adalah 64,6 % ditulis oleh dokter umum dan hanya 12,4 % ditulis oleh ahli kesehatan jiwa, dan 6,3 % ditulis oleh ahli penyakit saraf. Dokter ahli lain yang tercatat sebagai penulis resep benzodiazepin antara lain ahli bedah, ahli kebidanan dan kandungan, ahli penyakit mata, ahli penyakit kulit dan kelamin serta dokter gigi.

Untuk data terbaru belum saya dapatkan hanya dapat laporan tanpa validasi dari beberapa teman di rumah sakit yaitu terjadi penambahan 3 sampai 5 kali lipat.

Peresepan golongan obat penenang ini tidak hanya dalam bentuk tunggal, sering juga dalam bentuk kombinasi dengan obat lain contoh untuk pengobatan :
Pasien masalah pencernaan (tukak lambung, maag kronis)
Anak-anak yang dikategorikan atau dilabel ADD, ADHD, Autis
Pasien migrain, vertigo atau gangguan pada bagian kepala
Pasien nyeri syaraf, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi.

Dari konseling yang saya lakukan masalah yang terjadi sehingga pasien mendapatkan resep golongan obat penenang adalah :

1. Kurangnya penghargaan diri.

2. Tidak diterimanya dia secara baik menurut persepsinya di lingkungan tempat dia berada.

3. Kejadian atau peristiwa tertentu yang menyebabkan pasien menjadi trauma, takut, khawatir, tidak percaya diri, dendam, marah dan perasaan tidak nyaman lainnya yang mana tidak dapat dikontrol oleh diri pasien itu sehingga dia memerlukan sesuatu dari luar untuk membantu dirinya dalam hal mengontrol perasaan tidak nyaman ini. Contoh kejadian atau peristiwa yang dialami pasien-pasien ini seperti tabrakan, kematian, perceraian, keributan, putus cinta, kebangkrutan, dll.

4. Pernah mengkonsumsi narkoba dan sekarang dalam proses pemulihan.

5. Pasien dengan kebutuhan khusus seperti anak-anak yang mendapatkan pelabelan ADD, ADHD, Autis, dll.

6. Tidak dapat menerima kenyataan kehidupan yang dilaluinya sekarang.

Pengunaan golongan obat penenang pada pasien gangguan mental seperti contoh di atas hanya bersifat sementara selama konsentrasi efektif obat ini yang berada di dalam darah cukup kuat untuk membantu pasien untuk tetap dalam kondisi terkontrol, dan setelah konsentrasi obat dalam darah turun di bawah konsentrasi efektifnya maka perlu ditambah asupan obat lagi supaya kondisi terkontrol ini tetap terjaga. Berapa kali asupan obat yang diberikan sesuai tergantung dari berapa jam daya kerja obat ini. Ada yang satu kali sehari, dua kali sehari, tiga kali sehari dapat dilihat dari mula kerja obat, waktu paruh obat dan eliminasi obat ini dari tubuh. Beberapa buku yang dapat dijadikan acuan untuk melihat kerja obat ini :

1. British National Formularium

2. The Pharmacological of Therapeutics – Goodman and Gilman

3. Martindale The Complete Drug Reference 36 th Edition

Saya pribadi setuju dengan satu penyataan yang sering saya dengar dari beberapa teman sejawat saya yakni jika seseorang menderita sakit fisik dia harus ke dokter, jika sakitnya berhubungan dengan jiwa berarti diterapi jiwanya dengan ilmu pikiran (hipnoterapis, psikolog, terapis pikiran lain) dan jika yang sakit adalah ROH maka ini urusan spiritual.

Mengenai terapi jiwa ini sudah mulai banyak dilakukan dan hasilnya sangat efektif. Terapi jiwa yang dimaksud adalah hipnoterapi, terapi berbasis komunikasi seperti menggunakan teknik NLP, Ego state Therapy Gordon Emmerson, psikolog. Selain itu juga ada terapi yang dinamakan Energy Psychology Healing seperti EFT (Emotional Freedom Therapy), TAT (Tapas Accupressure Technique), BSSF (Be Set Free Fast), Quantum Awareness, Quantum Touch, dll.

Kompetensi seorang terapis sangat diperlukan dalam melakukan terapi jiwa ini meliputi :

1. Kemampuan berbahasa (linguistik) yang baik dalam hubungan dengan komunikasi, menggali informasi, menjelaskan

2. Kemampuan menjalankan teknik terapi dengan baik

3. Kemampuan melakukan restrukturisasi pikiran.

4. Kemampuan terapis dalam mengaplikasikan teknik terapi dengan baik dan benar yang didapatkannya dari lembaga yang mempunyai kompetensi dalam memberikan pelatihan.
Penjelasan Obat Golongan Benzodiazepin

Efek benzodiazepin hampir semua merupakan hasil kerja golongan ini pada SSP dengan efek utama : sedasi, hipnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot dan antikonvulsi.

Benzodiazepin mempengaruhi aktivitas saraf pada semua tingkatan, namun beberapa derivat benzodiazepin pengaruhnya lebih besar dari derivat yang lain, sedangkan sebagian lagi memiliki efek yang tidak langsung. Benzodiazepin bukan suatu depresan umum seperti barbiturat.

Peningkatan dosis benzodiazepin menyebabkan depresi SSP yang meningkat dari sedasi ke hipnosis dan dari hipnosis ke stupor. Keadaan ini sering dinyatakan sebagai efek anestesia, tapi obat golongan ini tidak benar-benar memperlihatkan efek enestesi umum yang spesifik karena kesadaran penderita biasanya tetap bertahan dan relaksasi otot yang diperlukan untuk pembedahan tidak tercapai. Namun pada dosis preanestetik, benzodiazepin menimbulkan amnesia bagi kejadian yang berlangsung setelah pemberian obat; jadi hanya menimbulkan ilusi mengenai anestesia yang baru dialaminya (amnesia anterogad).

Efek Samping

Benzodiazepin dengan dosis hipnotik menimbulkan efek samping sebagai berikut : light headedness, lambat bereaksi, inkoordinasi motorik, ataksia, gangguan fungsi mental dan prikomotor, gangguan koordinasi berpikir, bingung, amnesia enterograd, mulut kering dan rasa pahit. Kemampuan berpikir sedikit kurang dipengaruhi dibandingkan dengan penampilan gerak.

Beberapa Obat Golongan Benzodiazepin

Klordiazepoksid : Braxidin, Cliad, Klidibrax, Librax, Renagas, Sanmag, Librium, Limbritol, Cetabrium, Tensinyl

Diazepam : Valium, Stesolid, Diazepam generik, Valisanbe, Valdimex, Trazep, Lovium, Mentalium

Klorazepat : Anksen, Tranxene

Flurazepam : Dalmane

Triazolam : Halcion

Alprazolam : Xanax, Alganax, Atarax, Feprax, Zyprax, Alviz

Prazepam : Centrax

Halazepam : Paxipam

Quazepam : Doral

Lorazepam : Ativan, Renaquil, Merlopam

Oksazepam : Serepax

Temazepam : Restoril

Bromazepam : Lexotan

Klobazam : Frisium, Clobium, Proclozam, Asabium

Estazolam : Esilgan

Nitrazepam : Nipam, Mogadon, Alodrom, Arem, Insoma, Nitrados, Nitrazadon, Ormodan, Paxadorm, Remnos, Somnite

Akhir kata, selamat menikmati tulisan saya. Semoga bermanfaat bagi Anda semua.

Salam,

Mulia Sunarko, S.Si., Apt.

- Clinical Pharmacist

- Mastery Ego State of Gordon Emmerson

Comments

13 Responses to “Pasien Pemakai Obat Penenang Untuk Terapi Jangka Panjang”
  1. milla says:

    kalau sudah terlanjur menggunakan alaganax dikarenakan dulunya memiliki penyakit gangguan jiwa seperti berhalusinasi dan sebagainya
    apakan bisa dihentikan ketergantungannya dari obat tersebut? bagaimana caranya?

  2. tata says:

    saya mengkonsumsi obat tidur, 1 tahun terakhir ini. tetapi karena saya takut ketergantungan, saya hanya meminum obat tersebut saat weekend saja. supaya saya bisa beristirahat dengan enak dan cukup. itung2 mengganti weekday yang kadang hanya tidur 3- 4 jam setelah adzan subuh (karena pekerjaan dgn deadline setumpuk). dan kebiasaan itu membuat saya tidak bisa terpejam saat weekend (jumat dan sabtu).
    Tetapi, yg saya bingung, walaupun dikonsumsi hanya hari jumat dan sabtu saja, belakangan kok 1 buah pil tidak mempan. skrg kadang harus mengkonsumsi 2 pil untuk hari jumat, dan 2,5 pil untuk hari sabtu. bagaimana mengatasi hal tersebut.
    saya takut lama kelamaan setiap minggunya harus terus bertambah dosisnya. apakah ada minuman seperti teh pahit yg katanya bisa menetralisir tubuh dari obat2 semacam itu. sehinggga untuk weekend saya tidak perlu menambah dosis obat tidur saya. mohon tanggapannya, terimakasih.

  3. irma says:

    saya hampir 10 bln mengkonsumsi meloparm 0,5mg dan risperidone 1mg karena masalah insomnia yg saya alami, sekarang sy ingin lepas dari obat tsb dan telah berjalan 2 bln sy hanya mengkonsumsi bila perlu sebulan 2x. Tapi akhir2 ini sy merasa tidak nyaman dengan perasaan sy yg ga jelas….apkh ini efek dari penggunaan obat tersebut? trimakasih.

  4. umy kyu says:

    Xanax atau aprazolam ☜ itu punya efek jangka pendek hanya 4 jam.. Jadi bila untuk pemakaian jangka panjang bs menyebabkan kecanduan atau withdrawal.. Harusnya bukan dinaikan dosisnya tp bs diganti obatnya menggunakan obat yg lebih lama jangka efeknya.. Spt frisium( golongan clobazam)

  5. Adi Inotrino (@Adiinotrino) says:

    saya sudah 20 thn memakai esilgan 2 mg …..sampai skrng saya sudah berusaha terapi mengurangi dosis dari 2 tab skrng hanya 1/2 tab,,,tapi kenapa kepala jadi sakit seperti terikat (tension headace) kalo gak salah, gimana cara mengatasinya ya…mata juga trasa kabur krna skrng saya juga kena hypertensi..???

  6. radit says:

    benar sekali apa yang diceritakan penulis ini. saya termasuk salah satu pengguna benzo yang sudah ketergantungan, efek withdrawal atau putus obat secara mendadak akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi fisik dan mental. saya beberapa kali kehabisan obat efeknya badan saya meriang, sensitif berlebihan sampai tidak mau disentuh orang terdekat sekalipun (keluarga), kordinasi sistem otak dan badan tidak sejalan, pandangan menjadi kabur, sulit berpikir, kecemasan yang luar biasa hingga tidur pun tidak bisa, seolah dunia ini tidak nyata. tapi setelah mengkonsumsi kembali seperti terasa terlahir kembali ke dunia, euphoria kebahagiaan dan kepercayaan diri meningkat kembali. saya pengguna alprazolam hampir semua merk obat yg memiliki kandungan ini sudah saya coba dari dosis terendah hingga terbesar sebut saja dari Alprazolam generik (otto & dexa), Alganax, Xanax, Frixitas, Calmlet. Sempat saya terapi ke pskiater dan bertekad untuk berhenti dari ketergantungan ini, saat itu dokter yang menangani saya hanya memberikan 15tab Calmet 2mg dan sisanya adalah obat pengalih untuk menurunkan dosis yaitu obat anti depresi(bukan anti cemas) golongan Sentraline dengan merk Zoloft produksi Pfizer dan Obat Tidur bermerk Rozerem masing2 15tab. Namun kondisi yang ada semakin memburuk ketika saya mengkonsumsi zoloft, efek sampingnya sungguh terasa saya merasakan mual2,kepala pusing,tensi meningkat,detak jantung berdebar2,dan yang terparah hilangnya nafsu makan hingga tanpa saya sadari berat saya turun 7kg hingga saat ini. Saya konsultasikan kembali ke dokter namun dia mengabaikan efek samping yang saya rasakan dan Alprazolam sudah tidak diberikan lagi pada sesi selanjutnya. Alhasil terapi saya berhenti sampai disitu karena saya merasa kurangnya keselarasan dengan dokter yang menangani saya. Hingga saat ini saya sudah menggunakan obat golongan Benzodiazepin (terutama Alprazolam) selama 3tahun tanpa pengawasan dokter, dan benar dosis saya meningkat hari demi hari. Pesan saya bagi pasien yang belum merasakan efek ketergantungan obat penenang ini mulailah untuk berhenti sesegara mungkin.

  7. sadem says:

    cara untuk berhenti dari ketergantungan alprazolam adalah dengan penurunan dosis atau dengan cara berhenti secara mendadak. saya pernah mencoba kedua cara tersebut. pada saat dosis di turunkan dalam jangka waktu tertentu menurut saya itu kurang membantu. salah satu psikiater di kota bandung menyarankan agar cara terbaik untuk berhenti dari ketergantungan alprazolam (calmlet) adalah dengan cara berhenti secara mendadak dan dengan melakukan pendekatan secara emosional terhadap para penderita. ketika saya merasa gelisah, cemas, sulit tidur, dan tidak betah dirumah saya memutuskan untuk menjalani rawat inap. selama 7 hari saya menjalani rawat inap saya tidak diberikan obat apa-apa terkecuali pada malam hari hanya diberi 1/4 alganax. setelah hampir sebulan saya berhasil untuk tidak mengkonsumsi alprazolam, tetapi ketika saya berbaur dengan lingkungan saya kembali, saya tergiur untuk mencoba xanax dan juga apazol 1mg. tidak lama setelah itu timbul bintik merah seperti cacar air diseluruh tubuh, keringat dingin, gelisah, nyeri pada tulang, sulit tidur. akhirnya saya mencoba untuk berkonsultasi kembali pada salah satu psikiater, info yang saya dapatkan ternyata dalam penggunaan anti depresan itu tidak dapat sembarang mengkonsumsi atau cocok-cocokan. dengan niat yang kuat akhirya saya berjanji untuk tidak mengkonsumsi anti depresan lagi. masalah timbul setelah saya benar-benar berhenti menggunakan antidepresan. mungkin yang saya rasakan adalah efek jangka panjang penggunaan anti depresan bagi wanita diantaranya adalah menstruasi tidak teratur, saya sampai 4 bulan tidak menstruasi dan pada akhirnya menstruasi setelah berkonsultasi dengan dokter, adanya flek pada paru2 yang mengakibatkan sulit bernafas, badan tidak segar, selalu berkeringat, muka menjadi kusam, rasa tidak percaya diri, dan yang lebih fatal adalah kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang kita sayang seperti orang tua, teman dan sahabat.
    hal terpenting jika kita tidak ingin terus mengkonsumsi anti depresan adalah dengan berada pada lingkungan yang positif, ada di tengah2 keluarga, selalu berdoa dan mengingat tuhan :)
    semoga bermanfaat

  8. soax says:

    setuju jaman millenium musim bgt tuh..lexotan dkk,ampe akhirnya insap gara2 rohypnol abis sepapan seminggu gak inget apa2an jd orang gila,
    hhe mengenang masa lalu

  9. rudi says:

    Saya dari kluarga tdk mampu dari pedalam kaltim kutai barat.saya ada seorang ibu yg mengalami gangguan jiwa sejak tahun 1986 sampai saat ini, dia suka ngomong sendiri, atau bersikap kasar saja orang lain , dan dari kluarga sayansendiri tdk ada yg mau membantu saya.lewat email ini saya mohon petunjuk dan rekomendasi dari bpk/yg baca email saya ini.
    Alamat saya sementra di perum puspita bengkuring blok am 18 samarinda. Tlp 081347883366

  10. ayik says:

    dmn beli alganax dan dimana saya bisa mendaptkan alganax………

  11. hardiyanti says:

    saya pernah mengadu k dokter, keluhan saya ; perut kembung, sering bersendawa, sering kentut, sesak nafas, dada seperti tertusuk sampa kebelakang,nyeri pundak, alhasil saya dikasih obat vasedon,frisium clobasam,analsik. apakah obat itu termasuk obat keras? bagusnya obat tersebut diteruskan atau dihentikan saja? mohon info & sarannya.

  12. hardiyanti says:

    saya pernah mengadu k dokter, keluhan saya ; perut kembung, sering bersendawa, sering kentut, sesak nafas, dada seperti tertusuk sampa kebelakang,nyeri pundak, alhasil saya dikasih obat vasedon,frisium clobasam,analsik. apakah obat itu termasuk obat keras? bagusnya obat tersebut diteruskan atau dihentikan saja? mohon info & sarannya. terima kasih

  13. Ada banyak cara untuk menghentikan kebiasaan buruk, antara lain dgn menghipnosis diri sdr, mengkonsumsi makanan sehat dan herbal yg bersifat mendetox. Kalo bapak berkenan bs hubungi klinik herbal KebonQta, sms 0815 954 1816, dan jangan lupa kunjungi web kami OrganikHerbal.com

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

*


+ nine = 12