School of Mind Reprogramming - Friday, April 18, 2014

Efektifkah meminta maaf pada hari Raya – EgoState Therapy

August 23, 2011 by  
Filed under hypnotherapy & Ego state therapy

Antonius Arif
Master Beyond Hypnosis
1st EgoState Therapy Trainer in Asia
School of Mind Reprogramming
www.mind-reprogramming.com

Sebentar lagi lebaran tiba, hari kemenangan untuk para saudara-saudara kita atas melawan segala nafsu telah berhasil dilewati. Dan saat yang ditunggu-tunggu adalah saat bersilaturahmi untuk meminta maaf lahir dan batin. Selain menunggu saatnya untuk meminta maaf maka yang paling asyik ditunggu adalah makan ketupat  hmm yumieee

Meminta maaf dihari yang fitri ini bukan hanya dilakukan satu kali ini saja, ini sudah jadi tradisi setiap tahun bahwa para saudara dan tetangga akan saling mendatangi ke tempat masing-masing dengan suasana yang luar biasa indahnya. Ada satu hal yang sangat patut ditiru dari saudara-saudara kita ini, yaitu permintaan maaf lahir dan batin. Ini adalah suatu hal yang patut dicontoh. Permintaan maaf dengan hati yang tulus maka kedepan akan cemerlang dan cerah. Ini juga sebagai landasan dari hukum Law of Attraction. Semakin tidak ada yang menghalangi atau sebagai beban masa lalu maka rejeki yang halal akan mengalir luar biasa. Tentunya, kita semua meng-amini itu.

Saya tergoda untuk mengulas apakah Meminta maaf saat hari Raya Idul Fitri itu efektif dan mampu menghapus segala “luka” yang terjadi dimasa lalu? Saya membahas ini dari sisi EgoState Therapy. EgoState therapy ada hal yang dinamakan sebuah state atau sebuah kondisi. Di NLP juga dibahas mengenai state ini. State “luka” baru bisa tersembuhkan bila state “luka” tersebut tercollapsing dengan state yang benar-benar resourcefull dan penuh dengan acceptance & state yang “suci dan tulus” bila membahas dari sisi NLP atau dari sisi EgoState adalah state “luka” tadi mengekspresikan rasa luka tersebut kepada orang yang menyebabkan luka tersebut terjadi. Dimana orang yang menyebabkan luka itu, kita sebut introject.  Proses setelah mengekspresikan “luka”nya dilanjutkan dengan me-removal lukanya atau melepaskan luka tersebut. Luka dilepaskan bisa dengan menggunakan proses Forgiveness atau bisa juga menggunakan metode lainnya. Setelah proses “luka” dilepaskan maka perlu dilakukan me-relief atau menyembuhkan state “luka” tadi dengan state yang lebih dewasa dan mau mengasuh. Dan ini bisa didapat dari sikap welas asih kita yang besar atau bisa didapat dari Introject yang meminta maaf tadi.

Setelah mengetahui proses diatas, apakah berarti proses meminta maaf saat hari raya itu efektif? Coba kita amati bersama-sama. Saat ada seseorang yang datang ke rumah kita mungkin orang tersebut telah membuat kita terluka, lalu saat itu state sang tuan rumah lagi dalam state “senang” dan orang tersebut meminta maaf, apakah langsung emosi tersebut hilang? Ada tiga kemungkinan yang terjadi yaitu: satu, state orang yang “senang” tadi saat melihat orang yang berbuat kesalahan sama dia lalu dia berubah statenya menjadi state “luka” lalu dia akan mengamati proses apakah orang ini mau membuat luka lagi atau benar-benar tulus meminta maaf? Disini ada peranan penting dari orang yang meminta maaf atau introject, bila orang tersebut tidak benar-benar menunjukan ketulusannya maka state tersebut tidaklah sembuh. Apalagi state orang tersebut lagi state “senang” atau state “makan ketupat” J.  Kemungkinan kedua, orang tersebut lagi ramai karena banyak yang sedang meminta maaf dan state “luka” yang satu dengan “luka” yang lain pastinya bisa jadi adalah state yang berbeda. Sehingga saat state “luka” yang satu muncul dan baru proses memaafkan kemudian ada tamu yang lain datang dan muncul state “luka” yang lain ke 2 atau jangan-jangan belum sempat shifting ke state ke berikutnya. Maka proses mengekspresikan, merelease (melepaskan) dan merelief (menyembuhkan) lukanya belum sempurna dan kadang muncul lagi tamu yang berikutnya. Maka proses healing “luka”nya tidaklah sempurna.

Atau proses ketiga orang tersebut dengan sabar datang saat kondisi lagi sepi, baru introject (orang yang punya salah) datang dan saat itu state tuan rumah akan berubah dan bisa kita manfaatkan untuk tuan rumah mengungkapkan kekesalannya selama ini. Hati-hati saat melakukan ini, karena bisa jadi state “luka”nya suka tercampur dengan state “pengasih”nya kadang ini yang suka muncul orang jadi konflik disatu pihak mau memaafkan tetapi dipihak lain masih kesel. Jadi tamu (introject) memasang state menerima dan penyesalan yang sebesar-besarnya. Lalu saat tuan rumah sudah mengungkapkan kekesalannya maka proses ekspresi selesai, lalu dilanjutkan introject (tamu) meminta maaf sebesar-besarnya. Yang terpenting tatap matanya dan nyatakan dengan tulus. (Jangan memunculkan mata kebencian kalau perlu dilatih di depan kaca) lalu akui segala kesalahan kita dan proses release emosi dan relief menyembuhkan lukanya selesai. Untuk memperkuat proses penyembuhan, bisa dimanfaatkan dengan berdoa bersama karena saat berdoa tersebut, Higher self atau Bijaksana muncul dan bisa melakukan proses relief dengan baik. Ini harus dilakukan sesegera mungkin dan hindari kecampur dengan state lain yang mengurangi kesembuhkan state “luka” ini. So, Minal Aidzin Wal Faidzin tahun ini pasti lebih afdol dan lebih cemerlang. Sukses untuk anda dan mohon maaf lahir dan batin

Tips Meminta maaf yang Afdol:

  1. Cari situasi agak sepi dan longgar
  2. Pancing orangnya untuk mengatakan apa yang membuat dia kesal dan marah sama kita.
  3. Tatap matanya dan ungkapkan permintaan maaf yang tulus
  4. Setelah orang tersebut lega, segera tutup dengan DOA.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

*


+ nine = 12